Di usia 21 tahun, banyak orang mungkin masih sibuk mencari jati diri, menikmati masa muda, atau baru mulai meraba dunia kerja. Sementara aku, pelan-pelan memilih jalan yang ga selalu ramai. Membangun bisnis sendiri, dari nol, sendirian.
Ga ada modal besar.
Ga ada support finansial dari orang tua atau keluarga.
Ga ada “backup plan” kalau gagal.
Semua harus disiapkan sendiri. Dari hal teknis seperti bikin website, ngatur server, desain, sampai mikirin marketing, CRM, dan keuangan. Aku jadi programmer, marketing, admin, customer service, sekaligus finance dalam satu tubuh. Kadang terasa lucu, tapi lebih sering melelahkan.
Nyari relasi dan klien pun bukan hal yang mudah. Harus berani chat orang duluan, nawarin jasa, bangun kepercayaan dari nol. Ditolak itu biasa. Di-read doang tapi ga dibalas juga biasa. Bahkan ada klien yang sudah deal, sudah jalan, tapi pembayarannya molor.. Dan lucunya, kita tetap harus profesional, tetap sopan, tetap sabar.
Ada masa di mana sebulan penuh ga ada klien sama sekali.
Ga ada pemasukan.
Tapi pengeluaran tetap jalan.
Di titik itu, pikiran mulai ke mana-mana. Ngerasa salah ambil jalan, ngerasa tertinggal dari teman-teman yang gajinya stabil tiap bulan. Ngerasa capek sendirian, tapi juga ga tau harus cerita ke siapa. Karena memilih jalan ini berarti juga siap menanggung risikonya sendiri.
Yang paling berat bukan capek fisiknya, tapi mental. Bagaimana pun harus tetap terlihat “baik-baik saja” di depan klien, padahal di belakang layar lagi bingung mikirin besok makan apa, atau gimana caranya bayar kebutuhan bulan ini.
Tapi dari semua itu, aku belajar banyak hal yang mungkin ga bisa dipelajari di bangku sekolah atau kerja kantoran. Aku belajar tanggung jawab. Belajar mengelola emosi. Belajar bertahan saat ga ada yang menyemangati selain diri sendiri. Belajar bahwa konsistensi itu jauh lebih berat daripada motivasi.
Aku ga menulis ini untuk mengeluh semata. Aku menulis ini sebagai pengingat bahwa proses ini nyata. Bahwa membangun bisnis di usia muda bukan tentang flexing atau terlihat keren di sosial media, tapi tentang bertahan di hari-hari sepi dan tetap memilih jalan ini meski rasanya berat.
Jika suatu hari aku berhasil, tulisan ini akan jadi saksi.
bahwa pernah ada fase di mana aku hampir menyerah,
namun memilih bangkit satu hari lagi.
Dan untuk diriku sendiri di penghujung usia 21 tahun,
terima kasih sudah cukup berani untuk mencoba,
meski dunia belum sepenuhnya ramah.

